Hikmah bencana Aceh
Hudzaifah.org - Puluhan ribu mayat bergelimpangan di kota-kota Banda Aceh, Sigli, Lhokseumawe, Meulaboh, serta kecamatan dan desa-desa. Bau busuk menyebar. Kita sampai bergidik menyaksikannya. Namun sadarkah kita, kematian adalah kepastian. "Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati....." (QS. 3:185) Tidak ada yang bisa lari dari kematian. Kalau pun kita kini masih hidup, itu hanyalah menunggu waktu saja. Tubuh-tubuh kita yang gagah, dan sering kita rawat, suatu hari nanti PASTI juga akan menjadi bangkai dan terbaring di dalam tanah.
Menjauhlah sejenak dari rutinitas sehari-hari. Renungkanlah hakekat diri yang kerdil ini. Betapa Allah sangat mampu untuk mencabut puluhan ribu nyawa dalam waktu hampir bersamaan, sangat singkat. Seperti mimpi. Tetapi inllah ketetapan-Nya. Perbanyaklah mengingat kematian karena dapat membuat hati menjadi lembut hingga tak ada lagi keinginan untuk menzalimi orang lain. Hidup di dunia ini tidak lain hanyalah suatu kesenangan dan permainan belaka. Sesunggunya kampung akhirat, itulah kehidupan yang sebenarnya jika mereka mengetahui.(Q.S. al-Ankabut : 64).
Mengapa Aceh?
Banyak dari kita bertanya-tanya, mengapa Kota Serambi Mekkah yang tertimpa musibah ini? Mengapa tidak atas orang-orang yang ingkar saja? Berbagai pikiran buruk mungkin ada dalam benak kita. Namun sebagai orang yang beriman, selayaknya kita meyakini bahwa apapun ketetapan Allah adalah yang terbaik untuk hamba-Nya, kita ridha dengan keputusan-Nya. Musibah atas orang-orang yang beriman tidak selamanya buruk. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: "
Sesungguhnya besarnya pahala setimpal dengan besarnya cobaan. Dan sesungguhnya Allah apabila mencintai suatu kaum, Allah uji dengan cobaan. Maka barangsiapa yang ridha maka baginya keridhaan dari Allah. Dan barangsiapa yang marah maka baginya kemarahan dari Allah." (HR. Ibnu Majah, At-Tirmidzy. )
Musibah ini terjadi, agar kita semua lebih dekat kepada-Nya. Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata, "Cobaan kepahitan yang diberikan Allah berupa malapetaka, kesengsaraan, kesusahan, dibatasi rezekinya. Ini tidak dimaksudkan untuk menghinakannya, tetapi untuk mencobanya. Jika ia tetap taat kepada Allah dalam keadaan seperti itu, maka dia akan mendapat kebahagiaan. Jika dia mendurhakai Allah dalam keadaan seperti itu, maka dia akan mendapat penderitaan."
Karena biasanya bila seseorang dalam keadaan sehat, akan terlena dalam kenikmatan. Dan Jika Allah mencobanya dengan suatu penyakit atau musibah yang lain, maka baru dia bisa merasakan kelemahan, dan ketidakmampuannya di hadapan Allah, dan kembali kepada-Nya dengan penuh kepasrahan diri. "
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk memasrahkan diri." (Al-An'aam: 42).
Tiga kondisi manusia saat terjadinya musibah ini
Pertama, manusia yang meninggal. Kematian adalah suatu kepastian. Bisa dengan bencana alam, tertabrak mobil, terbunuh atau bahkan tersandung di jalan. Di dalam Islam, tidak dipentingkan bagaimana cara seseorang meninggal, tetapi yang utama adalah sedang dalam kondisi apa ia, ketika ajal menjemput. Contohnya, mungkin kita melihat orang yang mati syahid sangatlah mengerikan, berlumuran darah. Namun sesunguhnya seorang syahid - sebagaimana sabda Rasulullah saw- tidak merasakan sakitnya kematian melainkan hanya seperti digigit serangga, bahkan di hari akhir, ia akan dibangkitkan dengan darahnya yang wangi, wangi kasturi. Di dalam Islam, bila manusia meninggal dalam keadaan tengah beribadah kepadanya, tidak bermaksiat, maka kematiannya adalah husnul khatimah (kematian yang baik). Sedangkan bila saat ajal menjemput ia tengah bermaksiat, maka su'ul khatimah (kematian yang buruk). Mengenai perkara ini kita serahkan kepada Allah. Kita datang dari Allah dan akan kembali kepada Allah. "Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kalian dikembalikan." (Al-Anbiya': 35).
Kedua, manusia yang ditinggalkan. Apakah akan sabar ataukah justru berputus asa dan tidak rela menerima takdir. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: "
Allah Ta'aala berfirman, 'Tidaklah hamba-hamba-Ku yang mukmin mempunyai pahala di sisi-Ku, jika Aku mencabut nyawa orang yang dicintainya dari penghuni dunia, kemudian dia mencari pahala, melainkan (pahala itu berupa) surga." (Riwayat Al-Bukhary)
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu berkata, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: "Bencana senantiasa menimpa orang mukmin dan mukminah dalam jiwa, anak dan hartanya, sehingga dia bersua Allah dan pada dirinya tak ada satu kesalahan pun." (HR. At Tirmidzy).
Allah Ta'ala berfirman :"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian, dengan sedikit ketakutan, kelaparan,kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan 'inna lillahi wa inna ilaihi raji'uun'. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk."(Al-Baqarah: 155-157).
Ketiga, manusia-manusia yang menyaksikan. Yaitu yang tidak terkena bencana langsung maupun ditinggalkan oleh sanak saudara. Peristiwa gempa dan gelombang tsunami ini membuat seluruh dunia terperangah. Namun ada dua golongan manusia; yang segera bertaubat dan yang tak peduli sehingga tetap berkubang dalam kemaksiatan.
Bencana ini membuat manusia terhentak. Dan acara malam tahun baru yang biasanya hingar bingar, penuh hura-hura, (padahal masih banyak manusia lain yang kelaparan) terasa sendu. Alhamdulillah masih ada manusia-manusia yang tersentuh dan dengan penuh kesadaran, menghentikan acara-acara tersebut dan menggantinya dengan doa bersama.
Bencana ini membuat manusia diliputi rasa solidaritas sehingga membantu kesulitan saudara-saudaranya di Aceh dan Sumut. Syaikh Abdullah bin Ali Al-Ju'aitsin berkata : "Maka di antara nikmat Allah, Dia menimpakan cobaan berupa penyakit atau penderitaan kepada orang Mukmin pada waktu-waktu tertentu, agar dia mengingat saudara-saudaranya yang sedang sakit, yang selama itu dia lalaikan tatkala dia dalam keadaan sehat. Sehingga dengan begitu dia merasa terketuk untuk memenuhi hak-haknya, seperti mengunjunginya, membantu keperluannya, meringankan musibah yang menimpanya, menghiburnya, membantu menca-rikan cara penyembuhan, mendo'akan agar segera sehat dan lain-lainnya.
Ketiga kondisi manusia di atas adalah sama, yaitu dalam rangkaian ujian dari Allah. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: "Sungguh menakjubkan urusan orang Mukmin. Sesungguhnya semua urusannya merupakan kebaikan, dan hal ini tidak terjadi kecuali bagi orang Mukmin. Jika dia mendapat kegembiraan, maka dia bersyukur dan itu merupakan kebaikan baginya, dan jika mendapat kesusahan, maka dia bersabar
Kembali Ke Masjid :
Bila keadilan tidak ditegakkan, bila agama Allah diabaikan maka bencana dapat menimpa siapa saja, baik orang beriman maupun orang kafir, ahli ibadah maupun ahli maksiat. Allah SWT berfirman: Dan takutlah kepada fitnah (bencana, penderitaan, ujian) yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja diantara kamu. Dan ketahuilah, Allah sangat keras siksanya. (QS 8:25).
Para Nabi senantiasa mengajak kaumnya untuk menyembah Allah. Namun banyak manusia yang menolaknya, hingga turunlah azab dari Allah. Penerus para nabi, insya Allah masih ada di sekeliling kita. Mereka bukan hanya para da'i di podium masjid tetapi bisa juga teman-teman kita sendiri atau saudara kita. Mereka senantiasa mengajak manusia ke jalan Allah SWT, maka jangan abaikan seruan dawah mereka. Bukankah mereka tidak meminta imbalan atas seruannya itu, karena mereka hanya mengharap upah dari Allah, Tuhan semesta Alam.
Jauh hari sebelum bencana besar itu datang, Kesatuan Aksi Pelajar Muslim Indonesia (KAPMI) Aceh, menyatakan bahwa : Pemberlakuan Syariat Islam di Aceh belum mendapat respon positif dari seluruh komponen masyarakat Aceh. Sikap yang seperti ini membuat Aceh berada pada situasi yang serba sulit. Karena untuk menyelesaikan permasalahan Aceh hanya bisa dengan mengaplikasikan Islam diseluruh aspek kehidupan masyarakat. Namun, situasi Aceh yang serba tidak kondusif membuat Syari'at Islam seolah-olah lenyap dan hilang tanpa bekas, hal ini diikuti pula oleh sikap masyarakat Aceh yang seolah-olah tidak berminat dengan pemberlakuan syariat Islam. Hal ini tampak pula dalam kehidupan pelajar Aceh yang semakin jauh dari nilai-nilai Islam. Betapa banyak kerusakan moral yang diperlihatkan oleh Pelajar Aceh. Hal ini merupakan suatu hal yang perlu mendapat perhatian besar dari semua pihak. Namun realita yang tampak justru berbeda. Pelajar tidak mendapat pembinaan dan perhatian yang serius dari pihak-pihak terkait. Sehingga kerusakan moral yang terjadi bukannya berkurang tapi malah bertambah.
Puing-puing berserakan, seluruhnya luluh lantak, rata dengan tanah, kecuali masjid., kecuali masjid. Ini keajaiban Tuhan dan menjadi peringatan untuk kita semua yang masih hidup agar kembali ke jalan-Nya. Kita kembali ke masjid dan sujud menyembah kepada Allah, Tuhan Semesta Alam.


0 komentar:
Posting Komentar